setting

Publikasi Tugas Kuliah: makalah psikologi

makalah psikologi



PSIKOLOGI
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Dasar-dasar Ilmu Sosial
Dosen Pengampu : Bapak Supardi


                                                                 Disusun oleh:
1.    Rasyid Risnanto                        12416241039
2.    Rischa Putri A                12416241057
3.    R Hernawan W              12416241059
4.    Pitri Dwi A                       12416244010
5.    Ridha Pangestika          12416244011


Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
Fakultas Ilmu Sosial
UniversitasNegeri Yogyakarta
Tahun Akademik 2012/2013
BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Ilmu social pada dasarnya merupakan ilmu yang mempelajari perilaku dan aktivitas manusia dalam kehidupan bersama.Ilmu social mengkaji perilaku manusia yang bermacam-macam.Ilmu social merupakan suatu konsep yang ambisius untuk mendefinisikan seperangkat disiplin akademi yang memberikan perhatian pada aspek-aspek kemasyarakatan manusia.
Ilmu-ilmu social mencakup sosiologi, antropologi, psikologi, ekonomi, geografi social, politik bahkan sejarah walaupun disatu sisi ia termasuk ilmu humoniora. Cakupan tersebut digunakan untuk memcahkan masalah-masalah social dewasa ini.
Ilmu psikologi sendiri sangat besar peranannya dalam perkembangan ilmu-ilmu social dewasa ini.Bukan hanya sebagai disiplin yang membantu memcahkan masalah-masalah mental manusia, psikologi sangat berperan besar dalam memecahkan masalah kolektif manusia masyarakat. Ruang lingkupnya mencakupi berbagai proses perilaku yang dapat diamati, sp\eperti gerak tangan, cara berbicara, perubahan kejiwaan, dan proses yang hanya dapat diartikan sebagai pikiran dan mimpi.
Dengan demikian, psikologi dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individudalam berinteraksi dengan lingkungannya.

B.   Rumusan Masalah
1.    Apakah pengertian psikologi?
2.    Apa saja pendekatan dan metode penelitian psikologi?
3.    Bagaimana sejarah perkembangan psikologi?
4.    Apa saja konsep dan teori yang dikembangkan dalam ilmu psikologi?
5.    Bagaimana hubungan psikologi dengan ilmu sosial lain ?





C.   Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini, yaitu :
1)    Mengetahui tentang pengertian psikologi.
2)    Menjelaskan pendekatan dan metode penelitian psikologi.
3)    Menambah pengetahuan tentang sejarah perkembangan psikologi.
4)    Menjabarkan tentang konsep dan teori yang dikembangkan dalam ilmu psikologi.
5)    Menjelaskan tentang generalisasi psikologi.

















BAB II
PEMBAHASAN
A.   Pengertian Ilmu Psikologi
Ditinjau dari kata asalnya, psikologi berasal dari bahasa Yunani yaitu “Psyche” dan “Logos”. “Psyche” sendiri memiliki arti jiwa dan “Logos” adalah ilmu. Jadi secara tata bahasanya, Psikologi merupakan ilmu jiwa.Tetapi kita tidak bisa hanya mengacu pada objek ilmunya, karena dalam psikologi ini objeknya adalah jiwa, yang jiwa itu sendiri abstrak, tidak dapat diraba dan tidak dapat dilihat secara langsung.Para ahli terdahulu mendefinisikan “Psyche” tidak hanya dalam arti jiwa tetapi merupakan sesuatu yang abstrak yang menjadi penggerak dan pengatur bagi segala tingkah laku seseorang, baik tingkah laku yang termasuk perbuatan, maupun tingkah laku yang termasuk penghayatan.
Sebagai gambaran tetang pengertian Psikologi lebih lanjut, berikut beberapa pendapat para ahli tentang Psikologi , antara lain :
·         Menurut Ensiklopedi umum (1987: 914), psikologi ialah ilmu pengetahuan tentang jiwa, menyelidiki hal ikhwal yang berhubungab dengan kesadaran (consciousness), sensasi (sensation), pikiran (ideation), ingatan (memory), dan sebagainya.
·         Menurut William James (1980), psikologi adalah ilmu menenai kehidupan mental, termasuk fenomena dan kondisi-kondisinya. Fenomena yang dimaksudkan di sini adalah apa yang kita sebut perasaan, keinginan, kognisi, pikiran logis, keputusan, dan sebagainya.
·         Wulyo (1990: 142), menyatakan bahwa psikologi ialah ilmu yang mempelajari kaitan mental dengan ingkah laku tertama yang berhubungan dengan lingkungan.
·         Kenneth Clark dan George Millter (1970), mendefinisikan psikologi sebagai studi ilmiah mengenai perilaku. Ruang lingkupnya mencakup berbagai proses perilaku yang dapat diamati, seperti gerak tangan, cara berbicara, perubahan kejiwaan, dan proses yang hanya dapat diartikan sebagai pikiran dan mimpi.
·         Soegarda Poerbakawatja (1982: 298), dalam ensiklopedi pendidikan menyatakan : “Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mengadakan penyelidikan atas gejala dan kegiatan jiwa”.
Dari berbagai pendapat para ahli yang telah disebutkan di atas, dapat disimpulkan bahwa psikologi merupakan studi ilmiah mengenai proses perilaku dan proses-proses mental.
Ø  Ruang Lingkup Ilmu Psikologi
Bedasarkan objek yang diselidiki, ilmu psikologi dibagi menjadi ilmu psikologi umum (general phsychology) dan psikologi khusus. Berikut rincian ilmu psikologi secara tematis maupun terapan, antara lain :
a.    Psikologi Konstitusional
Studi tentang hubungan antar struktur morfologis dan fungsi fisiologis tubuh serta hubungan antara fungsi-fungsi psikologi sosial.
b.    Psikologi Sosial
Suatu kajian tentang sifat, fungsi, fenomena perilaku sosial, dan pengalaman mental dari individu dalam sebuah konteks sosial.
c.    Psikofarmakologi
Pengetahuan tentang obat untuk mengobati gangguan psikiatris.Gangguan tersebut meliputi skizoprenia, penyakit kegilaan depresif, dan kecemasan.
d.    Psikologi Okupasional
Suatu terminologi yang tampaknya merangkum suatu bidang kajian psikologi industri, psikologi organisasi, psikologi vokasional, dan psikologi sumber daya manusia.Dan jika ditinjau dari historisnya, psikologi okupasional sebagai produk perubahan sosial, ekonomi, dan kultural, khususnya pada masyarakat Barat.
e.    Psikologi Kepribadian
Suatu kajian tentang hal penanaman dan pelekatan tingkah laku, gaya hidup, karakteristik, integrasi dari ego, ketidaksadaran pribadi, ketidaksadaran kolektif,  dan tujuan seorang individu.
f.     Psikologi Lintas Budaya
Kajian empiris mengenai anggota berbagai kelompok budaya yang telah memiliki perbedaan pengalaman, yang dapat membawa ke arah perbedaan perilaku yang dapat diraalkan dan signifikan.
g.    Psikologi Klinis dan Penyuluhan atau Konseling
Merupakan salah satu bidang psikologi terapan yang berperan sebagai salah satu disiplin kesehatan mental dengan menggunakan prinsip-prinsip psikologi untuk memahami, mendiagnosis, dan mengatasi berbagai masalah atau penyakit psikologi.
h.    Psikologi Perkembangan
Menekankan perkembangan manusia dan berbagai faktor yang membentuk perilakunya sejak lahir sampai berumur lanjut.
i.      Psikologi Politik
Merupakan bidang interdisipliner yang tujuan substansif dasarnya untuk menyingkap saling keterkaitan antar proses psikologi dan politik. Sedangkan dari sisi lain, menggunakan kajian-kajian pendekatan ilmu politik, terutama perilaku politik massa, kepemimpinan politik dan pengambilan keputusan, serta konflik politik di dalam antar bangsa.
j.      Psikologi Pendidikan
Merupakan kajian tentang perilaku peserta didik di sekolah yang substansinya merupakan gabungan psikologi perkembangan anak, psikologi pendidikan, dan psikologi klinis yang berhubungan dengan setiap anak untuk evaluasi kegiatan belajar dan emosi; memberikan dan menafsirka hasil tes intelegensi, tes hasil belajar, dan tes kepribadian yang merupakan sebagan dari tugas mereka. Melalui konsultasi dengan para orang tua maupun guru, mereka merencanakan cara memberikan bantuan belajar pada anak tersebut, baik di dalam kelas maupun di rumah anak. Psikologi pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu ilmu karena di dalamnya telah memiliki kriteria persyaratan suatu ilmu, yakni Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis.
k.    Psikologi Kognitif
Adalah bidang studi psikologi yang mempelajari kemampuan kognisi, seperti : persepsi, proses belajar, kemmampuan memory, atensi, kemampuan bahasa dan emosi.
l.      Psikologi Industri dan Organisasi
Merupakan penerapan dari prinsip-prinsip psikologi industri dan perdagangan. Psikologi tersebut didefinisikan menurut kapan dan di mana ia dipraktikkan, bukan menurut pernyataan atau prinsip-prinsip tertentu. Dalam kajian ini terdapat tiga bidang kajian yaitu psikologi personalia, psikologi industrial/sosial atau psikologi industrial/klinis dan psikologi sumber daya manusia.
m.   Psikologi Konsumen
Membahas tingkah laku individu sebagai konsumen.Bidang psikologi ini mulai dengan psikologi periklanan dan penjualan, objeknya adalah komunikasi yang efektif, baik dari pihak pabrik maupun distributor kepada konsumen.
n.    Psikologi abnormal
Mengkaji perilaku individu yang tergolong abnormal.

B.   Pendekatan dan Metode Penelitian Psikologi
1)    Pendekatan
Pendekatan dalam ilmu psikologi secaraumum dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif. Namun, secara rinci Aktison dan Hilgard (1996:7-14) membagi psikologi atas lima pendekatan, yaitu pendekatan neurolobiologis, pendekatan perilaku, pendekatan kognitif, pendekatan psikoanalitik, dan pendekatan fenomenologis.

a)    Pendekatan Neurobiologis
Merupakan pendekatan yang kajiannya menitikberatkan pada pembahasan struktur otak manusia. Otak manusia dengan 12 miliar sel saraf dan sejumlah sel penghubung yang hamper tidak terbatas, merupakan struktur yang paling rumit di alam ini. Kejadian-kejadian psikologi tergambar dalam memori yang digerakkan oleh otak dan system saraf.Dalam pendekatan ini, berusaha menghubungkan perilaku dengan hal-hal yang terjadi dalam tubuh, terutama dalam otak dan system sarafnya. Dengan demikian, dalam pendekatan ini mengkhususkan proses neurobiology yang mendasari perilaku dan kegiatan mental.
Beberapa penemuan mutakhir telah menunjukkan dengan jelas bahwa ada hubungan yang erat antara aktivitas otak dengan perilaku dan pengalaman. Reaksi emosional, seperti rasa takut dan marah dapat dibangkitkan pada binatang dengan cara memberi rangsangan elektrik yang lemah pada beberapa bagian tertentu otak. Rangsangan pada bagian otak tertentu akan menimbulkanb perasaan senang, sakit, bahkan kenangan yang jelas mengenai kejadian masa lampau. Karena rumitnya susunan otak dan terdapat kesenjangan pengetahuan kita mengenai bagaimana mekanisme saraf itu beroperasi sehingga digunakan pula pendekatan lain untuk menyelidiki fenomena psikologis.

b)    Pendekatan Perilaku
Merupakan pendekatan dengan cara mengamati perilaku manusia, bukan mengamati kegiatan-kegiatan bagian tubuh dalam manusia. Pendekatan ini mulai diperkenalkan oleh seorang ahli psikologi Amerika John B. Watson pada wal tahun 1900-an, sedangkan sebelumnya psikologi mengandalkan metode introspeksi.Watson berpendapat bahwa introspeksi merupakan pendekatan yang tidak ada gunanya.Alasannya, jika psikologi dikatakan ilmu maka datanya harus dapat diamati dan terukur.Sedangkan instrospeksi, hanya Anda sendiri yang mampu menginstrospeksi pengamatan dan perasaan Anda, orang lain tidak. Watson mempertahankan pendapatnya bahwa hanya dengan mempelajari apa yang dilakukan manusia melalui perilakunya, psikologi menjadi ilmu yang objektif.
Akhirnya, pendekatan behaviorisme yang dianut Watson tersebut turut berperan dalam pengembangan bentuk psikologi.Cabang perkembangnnya, yaitu psikologi stimulus-response (S-R) yang hingga sekarang masih tetap berpengaruh. Kuatnya pengaruh psikologis stimulus-response (S-R) tersebut tidak lepas dari hasil jerih payah  ahli psikologi dari Hardvard, B.F. Skinner. Pada hakikatnya, psikologi S-R mempelajari rangsangan yang menimbulkan respons dalam bentuk perilaku, mempelajari ganjaran dan hukuman yang mempertahankan adanya respons itu, dan juga mempelajari perubahan perilaku yang ditimbulkan karena adanya perubahan pola ganjaran dan hukuman (Skinner, 1981).

c)    Pendekatan Kognitif
Pendekatan ini bertolak dari asumsi bahwa sebagai manusia tidak sekadar penerima rangsangan pasif, otak manusia secara aktif mengolah informasi yang diterima dan mengubahnya dalam bentuk serta kategori pengetahuan baru. Itulah kognisi, mengacu pada proses mental dari persepsi, ingatan, dan pengolahan informasi yang memungkinkan seseorang memperoleh pengetahuan, memecahkan persoalan, dan merencanakan masa depan.
Psikologi kognitif merupakan studi ilmiah mengenai kognisi. Tujuannya adalah untuk mengadakan eksperimen dan mewujudkan teori yang menerangkan bagaimana proses mental disusun dan berfungsi. Akan tetapi, penjelasannya mengharuskan teori itu membuat ramalan mengenai setiap kegiatan yang dapat diamati, terutama perilaku.Dengan demikian, munculnya pendekatan ini sebenarnya sebagai reaksi atas psikologi S-R yang dinilai terlalu sempit dan hanya berlaku untuk perilaku yang sederhana. Sedangkan kapabilitas manusia itu luas, termasuk dapat berpikir, membuat perencanaan, mengambil keputusan, memilih dengan cermat stimulus maria yang membutuhkan perhatian ekstra, dan sebagainya. Tokoh psikologi kognitif di antaranya adalah Kenneth Craik, seorang ahli psikologi berkebangsaan Inggris.

d)    Pendekatan Psikoanalitik
Pendekatan ini dikembangkan oleh Sigmund Freud, ahli psiokologi Austria yang didasarkan atas studi kasus yang laus dari para pasien secara individual, bukan secara eksperimen. Dasar pemikiran pendekatan ini bahwa sebagian besar perilaku manusia adalah dari proses yang tidak disadari (unconscious processes). Yang dimaksud dengan proses yang tidak disadari adalah pemikiran, rasa taktu, dan keinginan yang tidak disadari, tetapi berpengaruh terhadap perilakunya. Ia percaya bahwa banyak dari impuls pada masa anak-anak yang dilarang dan dihukum oleh para orang tua dan masyarakatnya berasal dari naluri pembawaan (innate instinc). Karena setiap orang lahir dengan membawa berbagai impuls, hal yang menimbulkan pengaruh mendalam harus ditangani dengan cara tertentu.
Melarang impuls tersebut hanya akan mengakibatkan mereka keluar dari kesadaran dan menggantikannya dengan ketidaksadaran yang tetap berpengaruh terhadap perilaku. Impuls yang tidak disadari ini menurut Freud akan mendapatkan jalan pelampiasannya melalui mimpi, kekeliruan berbicara (latah), cara kebiasaan, dan gejala penyakit neurosis, serta melalui bentuk perilaku yang dapat diterima masyarakat.

e)    Pendekatan Fenomenologi
Pendekatan ini memusatkan perhatiannya pada pengalaman sujektif individu.Pendektan ini, menekankan pemahaman kejadian atau fenomena yang dialami individu tanpa adanya beban prakonsepsi atau ide teoretis. Para psikolog fenomenologi percaya bahwa kita dapat belajar lebih banyak mengenai kodrat manusia dengan cara mempelajari bagaimana manusia memandang diri dan dunia mereka daripada kita mengamati tindak-tanduk mereka. Dua orang manusia mungkin bertindak sangat berbeda dalam bereaksi terhadap situasi yang sama. Hanya dengan menanyakan bagaimana tafsiran masing-masing tentang keadaan tersebut, kita dapat mengerti sepenuhnya perilaku mereka.
Para ahli psikologi fenomenologi, di pihak lain lebih menitikberatkan pengertian mengenai kehidupan bagian dalam dan pengertian mengenai pengalaman individu daripada mengembangkan teori atau meramalkan perilaku. Sebagai contoh, mereka lebih berminat terhadap konsep diri seseorang, perasaan harga diri, dan kesadaran akan diri sendiri (self-awarness). Sebaliknya, pendekatan ini pun menolak pandangan bahwa perilaku dikontrol oleh desakan yang tidak disadari ( teori psikoanalitik) atau rangsangan dari luar, terutama pandangan behaviorisme. Mereka lebih meyakini pendapat bahwa kita tidak digerakkan oleh kekuatan di luar control kita, tetapi kita merupakan pelaku yang mengontrol tujuan kita sendiri. Kita membentuk kehidupan kita sendiri karena setiap orang adalah pelaku yang bebas; bebas memilih, bebas menentukan tujuan, dan bebas bertanggung jawab terhadap pilihan hidup yang kita pilih.

2)    Penelitian Psikologi
Mental seseorang tidak mudah untuk dilihat secara langsung.Untuk itu psikologi melakukan pengamatan berdasarkan kenyataan yang dapat diamati berdasarkan perubahan-perubahan yang dapat diukur dengan observasi maupun dengan tes mental.Ilmu psikologi yang awalnya sangat mengandalkan deskripsi diri terus berkembang dalam berbagai metode penelitian. Beberapa metodologi dalam psikologi, di antaranya sebagai berikut :
1.    Metodologi Eksperimental
Metodologi Eksperimental biasanya dilakukan di dalam laboratorium dengan mengadakan berbagai eksperimen. Peneliti mempunyai control sepenuhnya terhadap jalannya suatu eksperimen. Yaitu menentukan akan melakukan apa pada sesuatu yang akan ditelitinya, kapan akan melakukan penelitian, seberapa penting melakukan penelitiannya, dan sebagainya. Pada metode eksperimental, maka sifat subyektivitas dari metode introspeksi akan dapat diatasi. Pada metode instrospeksi murni hanya diri peneliti yang menjadi obyek.Tetapi pada instrospeksi eksperimental jumlah subyek banyak, yaitu orang-orang yang dieksperimentasi itu. Dengan luasnya atau banyaknya subyek penelitian maka hasil yang didapatkan akan lebih obyektif.
2.    Observasi
Observasi ilmiah ini dapat diterapkan pula pada tingkah laku yang lain, misalnya saja : tingkah laku orang-orang yang berada di took serba ada, tingkah laku pengendara kendaraan bermotor dijalan raya, tingkah laku anak yang sedang bermain, perilaku orang dalam bencana alam, dan sebagainya.
3.    Sejarah Kehidupan (metode biografi)
           Riwayat hidup seseorang merupakan sumber data yang penting untuk mengetahui “jiwa” individu.Fenomena sikapdan psikis pada masa sekarang sangat besar pengaruhnya dari kejadian-kejadian yang berlalu.Misalnya seorang anak yang tidak naik kelas bukan berarti dia bodoh.Dengan mencari data riwayat anak ternyata ketidak naikan kelas lebih banyak disebabkan motivasi.Motivasi anak bisa terganggu oleh berbagai hal baik social maupun psikis. Dalam metode ini orang menguraikan tentang keadaan, sikap-sikap ataupun sifat lain mengenai orang yang bersangkutan.
4.    Wawancara
Wawancara dapat dilakukan dengan melakukan interview atau Tanya jawab kepada subyek penelitian.Responden dalam kegiatan wawancara dapat menyampaikan hal-hal yang lebih bebas dan luas.Dalam kegiatan ini pewawancara juga dapat melakukan pengamatan lebih banyak dan penggalian informasi lebih dalam.Melalui perubahan raut muka dan indicator lainnya psikologi dapat mendeskripsikan ekspresi sebagai salah satu sandaran menuliskan data.Dibandingkan angket, wawancara lebih memiliki kesempatan mengungkap secara jujur.
5.    Angket
Kelebihan metode angket adalah dalam satu waktu peneliti dapat memperoleh data banyak, karena angket dapat dibagikan sekaligus dalam banyak orang.Semua pertanyaan angket/wawancara tertulis telah di susun pada lembar-lembar pertanyaan itu, dan orang yang diwawancarai tinggal membaca pertanyaan yang diajukan, lalu menjawabnya secara tertulis.

6.    Pemeriksaan Psikologi/Psikotes
Psikotes metode ini menggunakan alat-alat psikodiagnostik tertentu yang hanya dapat digunakan oleh para ahli yang benar-benar sudah terlatih.Alat-alat itu dapat dipergunakan untuk mengukur dan untuk mengetahui taraf kecerdasan seseorang, sikap seseorang, struktur kepribadian seseorang, dan lain-lain dari orang yang diperiksa itu.
7.    Metode Analisis Karya
Dilakukan dengan cara menganalisis hasil karya seperti gambar-gambar, buku harian atau karangan yang telah dibuat. Hal ini karena karya dapat dianggap sebagai pencetus dari keadaan jiwa seseorang.
8.    Metode Statistik
Umumnya digunakan dengancara mengumpulkan data atau materi dalam penelitian lalu mengadakan penganalisaan terhadap hasil; yang telah didapat.

C.   Sejarah dan Mazhab dalam Psikologi
Jika kita membahas tentang sejarah dari ilmu psikologi, maka kita akan membagi pembahasan ini ke dalam beberapa kurun waktu. Pembagiannya adalah sebagai berikut:
1.    Psikologi sebagai bagian dari filsafat. Anggapan ini berkembang pada masa Yunani, masa abad pertengahan, dan masa Renaisans.
2.    Psikologi berkembang dan menjadi ilmu yang mandiri. Artinya, psikologi bukan bagian dari ilmu lain. Anggapan ini mulai ada pada akhir abad ke 19 sampai saat ini.
Adapun penjelasan dari pembagian kurun waktu di atas adalah:
1.    Masa Yunani
Masa ini merupakan masa transisi dari pola pikir animisime ke awal dari natural science.Pada saat itu, manusia menganggap penentu aktivitas manusia adalah alam atau lingkungan. Pada masa ini perilaku manusia berusaha diterangkan melalui prinsip-prinsip alam atau prinsip yang dianalogikan dengan gejala alam.Pendekatan dan orientasi filsafat masa Yunani yang terarah pada eksplorasi alam, observasi yang empiris, ditandai dengan kemajuan di bidang astronomi dan matematika, meletakkan dasar ciri natural science pada psikologi, yaitu objektif, membuktikan kebenaran dengan eksperimen dan observasi terhadap aktivitas makhluk hidup. Orang yang menjadi  pelopor pertama dalam perkembangan ilmu psikologi para filosof dari Yunani yaitu Socrates, Plato dan Aristoteles.  Aristoteles memandang ilmu jiwa sebagai ilmu yang mempelajari gejala-gejala kehidupan.Jiwa adalah unsur kehidupan atau anima, karena itu tiap-tiap makhluk hidup mempunyai jiwa.
2.    Masa abad pertengahan
Ciri khas perkembangan ilmu psikologi pada masa ini adalah adanya pengaruh dari doktrin gereja yang akhirnya mengakar kuat dalam ilmu psikologi di masa itu.Akhirnya konsep psikologi di masa itu menjadi lebih berkembang.Di masa Yunani, psikologi hanya merupakan bagian dari ilmu filsafat, tapi di masa ini psikologi juga merupakan bagian dari aspek spiritual manusia.Artinya, ada hubungan yang sangat antara iman dan kejiwaan seseorang.Tokoh-tokoh pada masa ini di antaranya adalah St. Agustinus (filsuf pertama di masa ini) dan Thomas Aquinas (tokoh yang mentransformasikan nilai-nilai psikologi menurut Aristoteles ke dalam paham Kristen).
3.    Masa Renaisans
Masa ini merupakan merupakan reaksi terhadap masa sebelumnya, dimana pengetahuan bersifat doktrinal di bawah pengaruh gereja dan lebih didasarkan pada iman.Reaksi ini sedemikian kuat sehingga dapat dikatakan peran nalar menggantikan peran iman, ilmu pengetahuan menggantikan tempat agama dan iman di masyarakat.Semangat pencerahan semakin tampak nyata dalam perkembangan science dan filsafat melalui menguatnya peran nalar (reason) dalam segala bidang, dikenal sebagai the age of reason.Akal budi manusia dinilai sangat tinggi dan digunakan untuk membentuk pengetahuan.
Masa Rennaissance ditandai dengan bergesernya fokus pemahaman dari God-centeredness menjadi human-centerednes, dikenal dengan istilah sekularisasi atau humanity.Tulisan-tulisan filsuf terkenal seperti Plato, Aristoteles dan lain-lain dikaji untuk melihat bagaimana pola pikir penulisnya dan konteks histories waktu tulisan itu dibuat.Maka yang dicari adalah human truth dan bukan God truth.Kesimpulan akhirnya adalah penerimaan bahwa kebenaran memiliki lebih dari satu perspektif.
4.    Masa revolusi ilmiah
Pada masa ini, berkembang pola pikir yang lebih mekanistik dalam memandang alam dan manusia.Itu berarti alam memiliki sistem, dapat diramalkan, dan tidak tunduk pada hukum-hukum spritual belaka. Manusia juga memiliki reason, kemampuan untuk berpikir logis dan dengan demikian tidak tunduk total kepada hukum spiritual dan kesetiaan semata. Alam pun diatur menurut hukum yang pasti, empirik dan dapat dibuktikan lewat eksperimen.Memahami alam harus diikuti sikap mental pengujian fakta obyektif dan eksperimental.Implikasinya adalah munculnya diskusi tentang. ‘knowledge’ yang menyebabkan perkembangan ilmu dan metode ilmiah yang maju dengan pesat. Penekanan pada fakta-fakta yang nyata daripada pemikiran yang abstrak.Ilmu-ilmu eksakta yang menggunakan pendekatan empiri menjadi semakin dominan, sesuatu yang sampai sekarang juga masih dapat dirasakan pengaruhnya.Pada masa ini ilmu fisikalah yang dikenal sebagai ‘the queen of science’, dengan munculnya fisikawan besar seperti Newton.
§  Mazhab dalam psikologi :
Psikologi sebagai sebuah ilmu akan selalu berkembang, seiring dengan berkembangnya mazhab-mashab dan teori-teori baru yang bermunculan. Teori-teori yang muncul biasanya merupakan kritik dari teori-teori sebelumnya.Memang, patut diakui bahwa titik pandang (teori) dalam psikologi tidak ada yang sempurna, sehingga terbuka kesempatan bagi ilmuwan untuk memberikan kritik dan masukan ataupun penyempurnaan dari teori yang sudah ada.
Kali ini, kita akan membahas beberapa teori-teori psikologi. Psikoanalisa, Behaviorisme, Humanistik (Holistik), Psikologi Gestalt, Psikologi Positif, Psikologi Transpersonal dan Psikologi lintas Budaya (Cross Culture Psychology)
      I.        Psikoanalisis
Salah satunya tokoh psikoanalisis adalah Sigmund Freud (1856 – 1939).Nama asli Freud adalah Sigismund Scholomo. Namun sejak menjadi mahasiswa Freud tidak mau menggunakan nama itu karena kata Sigismund adalah bentukan kata Sigmund. Freud lahir pada 6 Mei 1856 di Freiberg, Moravia.Saat itu Moravia merupakan bagian dari kekaisaran Austria-Hongaria (sekarang Cekoslowakia). Pada usia empat tahun Freud dibawa hijrah ke Wina, Austria (Berry, 2001:3). Kedatangan Freud berbarengan dengan ramainya teori The Origin of Species karya Charles Darwin (Hall, 2000:1).
Psikoanalisis bermula dari keraguan Freud terhadap kedokteran. Pada saat itu kedokteran dipercaya bisa menyembuhkan semua penyakit, termasuk histeria yang sangat menggejala di Wina (Freud, terj.,1991:4). Pengaruh Jean-Martin Charcot, neurolog Prancis, yang menunjukkan adanya faktor psikis yang menyebabkan histeria mendukung pula keraguan Freud pada kedokteran (Berry, 2001:15). Sejak itu Freud dan doktor Josef Breuer menyelidiki penyebab histeria. Pasien yang menjadi subjek penyelidikannya adalah Anna O. Selama penyelidikan, Freud melihat ketidakruntutan keterangan yang disampaikan oleh Anna O. Seperti ada yang terbelah dari kepribadian Anna O. Penyelidikan-penyelidikan itu yang membawa Freud pada kesimpulan struktur psikis manusia: id, ego, superego dan ketidaksadaran, prasadar, dan kesadaran.
Freud menjadikan prinsip ini untuk menjelaskan segala yang terjadi pada manusia, antara lain mimpi. Menurut Freud, mimpi adalah bentuk penyaluran dorongan yang tidak disadari. Dalam keadaan sadar orang sering merepresi keinginan-keinginannya.Karena tidak bisa tersalurkan pada keadaan sadar, maka keinginan itu mengaktualisasikan diri pada saat tidur, ketika kontrol ego lemah.
Dalam pandangan Freud, semua perilaku manusia baik yang nampak (gerakan otot) maupun yang tersembunyi (pikiran) adalah disebabkan oleh peristiwa mental sebelumnya.Terdapat peristiwa mental yang kita sadari dan tidak kita sadari namun bisa kita akses (preconscious) dan ada yang sulit kita bawa ke alam tidak sadar (unconscious). Di alam tidak sadar inilah tinggal dua struktur mental yang ibarat gunung es dari kepribadian kita, yaitu:
a.    Id, adalah berisi energi psikis, yang hanya memikirkan kesenangan semata.
b.    Superego, adalah berisi kaidah moral dan nilai-nilai sosial yang diserap individu dari lingkungannya.
c.    Ego, adalah pengawas realitas.
Sebagai contoh adalah berikut ini: Anda adalah seorang bendahara yang diserahi mengelola uang sebesar 1 miliar Rupiah tunai. Id mengatakan pada Anda: “Pakai saja uang itu sebagian, toh tak ada yang tahu!”. Sedangkan ego berkata:”Cek dulu, jangan-jangan nanti ada yang tahu!”. Sementara superego menegur:”Jangan lakukan!”.
Pada masa kanak-kanak kira dikendalikan sepenuhnya oleh id, dan pada tahap ini oleh Freud disebut sebagai primary process thinking. Anak-anak akan mencari pengganti jika tidak menemukan yang dapat memuaskan kebutuhannya (bayi akan mengisap jempolnya jika tidak mendapat dot misalnya).
Sedangkan ego akan lebih berkembang pada masa kanak-kanak yang lebih tua dan pada orang dewasa. Di sini disebut sebagai tahap secondary process thinking.Manusia sudah dapat menangguhkan pemuasan keinginannya (sikap untuk memilih tidak jajan demi ingin menabung misalnya). Walau begitu kadangkala pada orang dewasa muncul sikap seperti primary process thnking, yaitu mencari pengganti pemuas keinginan (menendang tong sampah karena merasa jengkel akibat dimarahi bos di kantor misalnya).
Proses pertama adalah apa yang dinamakan EQ (emotional quotient), sedangkan proses kedua adalah IQ (intelligence quotient) dan proses ketiga adalah SQ (spiritual quotient).
    II.        Behaviourisme
Aliran ini sering dikatkan sebagai aliran ilmu jiwa namun tidak peduli pada jiwa.Pada akhir abad ke-19, Ivan Petrovic Pavlov memulai eksperimen psikologi yang mencapai puncaknya pada tahun 1940 – 1950-an. Di sini psikologi didefinisikan sebagai sains dan sementara sains hanya berhubungan dengan sesuatu yang dapat dilihat dan diamati saja.Sedangkan ‘jiwa’ tidak bisa diamati, maka tidak digolongkan ke dalam psikologi.
Aliran ini memandang manusia sebagai mesin (homo mechanicus) yang dapat dikendalikan perilakunya melalui suatu pelaziman (conditioning).Sikap yang diinginkan dilatih terus-menerus sehingga menimbulkan maladaptive behaviour atau perilaku menyimpang.Salah satu contoh adalah ketika Pavlov melakukan eksperimen terhadap seekor anjing. Di depan anjing eksperimennya yang lapar, Pavlov menyalakan lampu. Anjing tersebut tidak mengeluarkan air liurnya.Kemudian sepotong daging ditaruh dihadapannya dan anjing tersebut terbit air liurnya.Selanjutnya begitu terus setiap kali lampu dinyalakan maka daging disajikan.Begitu hingga beberapa kali percobaan, sehingga setiap kali lampu dinyalakan maka anjing tersebut terbit air liurnya meski daging tidak disajikan. Dalam hal ini air liur anjing menjadi conditioned response dan cahaya lampu menjadi conditioned stimulus.
   III.        Psikologi Humanistis                                                                
Aliran ini muncul akibat reaksi atas aliran behaviourisme dan psikoanalisis.Kedua aliran ini dianggap merendahkan manusia menjadi sekelas mesin atau makhluk yang rendah.Aliran ini biasa disebut mazhab ketiga setelah Psikoanalisa dan Behaviorisme.
Salah satu tokoh dari aliran ini – Abraham Maslow – mengkritik Freud dengan mengatakan bahwa Freud hanya meneliti mengapa setengah jiwa itu sakit, bukannya meneliti mengapa setengah jiwa yang lainnya bisa tetap sehat.
Salah satu bagian dari humanistic adalah logoterapi. Adalah Viktor Frankl yang mengembangkan teknik psikoterapi yang disebut sebagai logotherapy (logos = makna). Pandangan ini berprinsip hidup memiliki makna, bahkan dalam situasi yang paling menyedihkan sekalipun, tujuan hidup kita yang utama adalah mencari makna dari kehidupan kita itu sendiri, kita memiliki kebebasan untuk memaknai apa yang kita lakukan dan apa yang kita alami bahkan dalam menghadapi kesengsaraan sekalipun.
  IV.        Psikologi Gestalt
Psikologi Gestaltberasal dari bahasa Jerman yang berarti menggambarkan konfigurasi atau bentuk yang utuh.Suatu gestalt dapat berupa objek yang berbeda dari jumlah bagian-bagiannya. Semua penjelasan tentang bagian-bagian objek akan mengakibatkan hilangnya gestalt itu sendiri. Sebagai contoh, ketika melihat sebuah persegi panjang maka hal ini dapat dipahami dan dijelaskan sebagai persegi panjang berdasarkan keutuhannya atau keseluruhannya dan identitas ini tidak bisa dijelaskan sebagai empat garis yang saling tegak lurus dan berhubungan.
Sejalan dengan itu, gestalt menunjukkan premis dasar sistem psikologi yang mengonseptualisasi berbagai peristiwa psikologis sebagai fenomena yang terorganisasi, utuh dan logis.Pandangan ini menjelaskan integritas psikologis aktivitas manusia yang jelas.Menurut para gestaltis, pada waktu itu psikologi menjadi kehilangan identitas jika dianalisis menjadi komponen-komponen atau bagian-bagian yang telah ada sebelumnya.
Gerakan gestalt lebih konsisten dengan tema utama dalam filsafat jerman yakni aktivitas mental dari pada sistem Wundt.Psikologi gestalt didasari oleh pemikiran Kant tentang teori nativistik yang mengatakan bahwa organisasi aktivitas mental membuat individu berinteraksi dengan lingkungannya melalui cara-cara yang khas.Sehingga tujuan psikologi gestalt adalah menyelidiki organisasi aktivitas mental dan mengetahui secara tepat karakteristik interaksi manusia-lingkungan.
Psikologi gestalt diawali dan dikembangakan melalui tulisan-tulisan tiga tokoh penting, yaitu Max Wertheimer, Wolfgang Kohler dan Kurt Koffka.Ketiganya dididik dalam atmosfer intelektual yang menggairahkan pada awal abad 20 di Jerman, dan ketiganya melarikan diri dari kejaran nazi dan bermigrasi ke Amerika.
Tetapi di Amerika psikologi gestalt tidak memperoleh dominasi seperti di Jerman. Hal ini dikarenakan psikologi Amerika telah berkembang melalui periode fungsionalisme dan pada tahun 1930-an didominasi oleh behaviorisme. Oleh karena itu, kerangka psikologi gestalt tidak sejalan dengan perkembangan-perkembangan di Amerika.
    V.        Psikologi Transpersonal
Kata transpersonal berasal dari kata trans yang berarti melampaui dan persona berarti topeng. Secara etimologis, transpersonal berarti melampaui gambaran manusia yang kelihatan. Dengan kata lain, transpersonal berarti melampaui macam-macam topeng yang digunakan manusia.
Menurut John Davis, psikologi transpersonal bisa diartikan sebagai ilmu yang menghubungkan psikologi dengan spiritualitas. Psikologi transpersonal merupakan salah satu bidang psikologi yang mengintegrasikan konsep, teori dan metode psikologi dengan kekayaan-kekayaan spiritual dari bermacam-macam budaya dan agama. Konsep inti dari psikologi transpersonal adalah nondualitas (nonduality), suatu pengetahuan bahwa tiap-tiap bagian (misal: tiap-tiap manusia) adalah bagian dari keseluruhan alam semesta. Penyatuan kosmis dimana segala-galanya dipandang sebagai satu kesatuan.
Perintisan psikologi transpersonal diawali dengan penelitian-penelitian tentang psikologi kesehatan pada tahun 1960-an yang dilakukan oleh Abraham Maslow (Kaszaniak,2002). Perkembangan psikologi transpersonal lebih pesat lagi setelah terbitnya Journal of Transpersonal Psychology pada tahun 1969 dimasa disiplin ilmu psikologi mulai mengarahkan perhatian pada dimensi spiritual manusia. Penelitian mengenai gejala-gejala ruhaniah seperti peak experience, pengalaman mistis, exctasy, keadaran ruhaniah, pengalaman transpersonal, aktualisasi dan pengalaman transpersonal mulai dikembangkan.Aliran psikologi yang memfokuskan diri pada kajian-kajian transpersonal menamakan dirinya aliran psikologi transpersonal dan memproklamirkan diri sebagai aliran ke empat setelah psikoanalisis, behaviourisme dan humanistic.Psikologi transpersonal memfokuskan diri pada bentuk-bentuk kesadaran manusia, khususnya taraf kesadaran ASCs (Altered States of Consciosness).Sejak 1969, ketika Journal of Transpersonal Psychology terbit untuk pertamakalinya, psikology mulai mengarahkan perhatiannya pada dimensi spiritual manusia. Penelitian yang dilakukan untuk memahami gejala-gejala ruhaniah seperti peak experience, pengalaman mistis, ekstasi, kesadaran kosmis, aktualisasi transpersonal pengalaman spiritual dan kecerdasan spiritual (Zohar,2000).
Aliran psikologi Transpersonal ini dikembangkan oleh tokoh psikologi humanistic antara lain : Abraham Maslow, Antony Sutich, dan Charles Tart. Sehingga boleh dikatakan bahwa aliran ini merupakan perkembangan dari aliran humanistic.
  VI.        Psikologi Positif
Psikologi yang berkembang dewasa ini dapat disebut sebagai psikologi negatif, karena berkutat pada sisi-negatif manusia.Psikologi, karena itu, paling banter hanya menawarkan terapi atas masalah-masalah kejiwaan.Padahal, manusia tidak hanya ingin terbebas dari problem, tetapi juga mendambakan kebahagiaan. Adakah psikologi jenis lain yang menjawab harapan ini?
Martin Seligman, seorang psikolog pakar studi optimisme, memelopori revolusi dalam bidang psikologi melalui gerakan Psikologi Positif. Berlawanan dengan psikologi negatif, sains baru ini mengarahkan perhatiannya pada sisi-positif manusia, mengembangkan potensi-potensi kekuatan dan kebajikan sehingga membuahkan kebahagiaan yang autentik dan berkelanjutan.
Dalam buku revolusioner yang ditulis dengan gaya populer ini, Seligman memperkenalkan prinsip-prinsip dasar Psikologi Positif, ciri-ciri kebahagiaan yang autentik, dan faktor-faktor pendukungnya. Dengan metode-metode praktis yang dirumuskannya, Anda dapat memanfatkan temuan-temuan terbaru dari sains kebahagiaan untuk mengukur dan mengembangkan kebahagiaan dalam hidup Anda.
Psikologi positif adalah cabang baru psikologi yang bertujuan diringkas pada tahun 2000 oleh Martin Seligman dan Mihaly Csikszentmihalyi "Kami percaya bahwa psikologi positif akan muncul fungsi manusia yang mencapai pemahaman ilmiah dan efektif untuk membangun berkembang dalam individu, keluarga, dan masyarakat.Psikologi positif mencari" untuk mencari dan membina jenius dan bakat ", dan" untuk membuat kehidupan normal lebih memuaskan ", tidak hanya untuk mengobati penyakit mental. Pendekatan ini telah menciptakan banyak menarik di sekitar subjek, dan pada tahun 2006 studi di Universitas Harvard yang berjudul "Psikologi Positif" menjadi kursus semester yang paling populer semester.
Beberapa Psikolog Humanistik, seperti Abraham Maslow, Carl Rogers, dan Erick Fromm mengembangnak teori dan praktek yang melibatkan kebahagiaan manusia. Baru-baru ini teori yang dikembangkan oleh para psikolog humanistik ini telah menemukan dukungan empiris dari studi oleh para psikolog positif, meskipun penelitian ini telah banyak dikritik.Teori ini lebih berfokus pada kepuasan dengan sumber filosofismenya keagamaan dan psikologi humanistic.
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa dan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari.Dan selama ini yang kita ketahui, bidang psikologi selalu menghadapi hal-hal yang berhubungan dengan jiwa seseorang, misalnya penyebab orang mengalami gangguan jiwa, mengapa orang bisa mengalami stress, dan lain-lain.Yang selalu berhubungan dengan sisi negatif seseorang.
Tetapi selami ini kita mengenal yang nama nya psikologi positif, yaitu lebih menekankan apa yang benar/baik pada seseorang, dibandingkan apa yang salah/buruk. Sebelumnya, psikologi biasanya selalu menekankan apa yang salah pada manusia, seperti soalan stress, depresi, kegelisahan dan lain lain.
Itulah sebabnya, ada aliran baru dalam dunia psikologi, dan menyebutnya sebagai psikologi positif.Menurut Seligman,“Psikologi bukan hanya studi tentang kelemahan dan kerusakan; psikologi juga adalah studi tentang kekuatan dan kebajikan.Pengobatan bukan hanya memperbaiki yang rusak; pengobatan juga berarti mengembangkan apa yang terbaik yang ada dalam diri kita.”Misi Seligman ialah mengubah paradigma psikologi, dari psikologi patogenis yang hanya berkutat pada kekurangan manusia ke psikologi positif, yang berfokus pada kelebihan manusia.
Berfokus terhadap penanganan berbagai masalah bukanlah hal baru dalam dunia psikologi.Sejak dulu, manusia selalu dipandang sebagai makhluk yang bermasalah.Sejak awal mula munculnya aliran psikologi (mashab behaviorisme), manusia dipandang sebagai suatu mekanik yang penuh dengan banyak masalah.Mashab ini kemudian melihat masalah yang ada pada manusia, belum lagi dengan mashab psikoanalisis yang melihat kenangan masa lalu sebagai penyebab penderitaan yang ada saat ini.Apapun itu, psikologi yang berkembang selama bertahun-tahun lamanya lebih memedulikan kekurangan ketimbang kelebihan yang ada pada manusia.Itulah sebabnya psikologi yang berkutat pada masalah sering disebut sebagai psikologi negatif.
Psikologi positif berhubungan dengan penggalian emosi positif, seperti bahagia, kebaikan, humor, cinta, optimis, baik hati, dan sebagainya.Sebelumnya, psikologi lebih banyak membahas hal-hal patologis dan gangguan-gangguan jiwa juga emosi negatif, seperti marah, benci, jijik, cemburu dan sebagainya. Dalam Richard S. Lazarus, disebutkan bahwa emosi positif biasanya diabaikan atau tidak ditekankan, hal ini tidak jelas kenapa demikian. Kemungkinan besar hal ini karena emosi negatif jauh lebih tampak dan memiliki pengaruh yang kuat pada adaptasi dan rasa nyaman yang subyektif dibanding melakukan emosi positif.Contohnya, pada saat kita marah, maka ada rasa nyaman yang terlampiaskan, rasa superior, dan sebagainya. Ada suatu penelitian mengatakan bahwa marah adalah emosi yang dipelajari, sehingga dia akan cenderung untuk mengulangi hal yang dirasa nyaman.
Psikologi positif tidak bermaksud mengganti atau menghilangkan penderitaan, kelemahan atau gangguan (jiwa), tapi lebih kepada menambah khasanah atau memperkaya, serta untuk memahami secara ilmiah tentang pengalaman manusia.
Jadi intinya saat ini kita sudah mengenal yang nama nya psikologi positif, ada baiknya kita merubah diri kita sedikit demi sedikit. Sebisa mungkin kita lebih mengeluarkan emosi positif kita dibandingkan emosi negatif kita. Maka hasilnya pun akan positif.

 VII.        Psikologi Lintas Budaya (Cross Culture Psychology)
Kata budaya sangat umum dipergunakan dalam bahasa sehari-hari.Paling sering budaya dikaitkan dengan pengertian ras, bangsa atau etnis.Kata budaya juga kadang dikaitkan dengan seni, musik, tradisi-ritual, atau peninggalan-peninggalan masa lalu.Sebagai sebuah entitas teoritis dan konseptual, budaya membantu memahami bagaimana kita berperilaku tertentu dan menjelaskan perbedaan sekelompok orang. Sebagai sebuah konsep abstrak, lebih dari sekedar label, budaya memiliki kehidupan sendiri, ia terus berubah dan tumbuh, akibat dari pertemuan-pertemuan dengan budaya lain, perubahan kondisi lingkungan, dan sosiodemografis. Budaya adalah produk yang dipedomani oleh individu-individu yang tersatukan dalam sebuah kelompok.Budaya menjadi pengikat dan diinternalisasi individu-individu yang menjadi anggota suatu kelompok, baik disadari maupun tidak disadari.Pada awal perkembangannya, ilmu psikologi tidak menaruh perhatian terhadap budaya. Baru sesudah tahun 50-an budaya memperoleh perhatian. Namun baru pada tahun 70-an ke atas budaya benar-benar memperoleh perhatian. Pada saat ini diyakini bahwa budaya memainkan peranan penting dalam aspek psikologis manusia.Oleh karena itu pengembangan ilmu psikologi yang mengabaikan faktor budaya dipertanyakan kebermaknaannya.Triandis (2002) misalnya, menegaskan bahwa psikologi sosial hanya dapat bermakna apabila dilakukan lintas budaya.Hal tersebut juga berlaku bagi cabang-cabang ilmu psikologi lainnya.
Sebenarnya bagaimana hubungan antara psikologi dan budaya?Secara sederhana Triandis (1994) membuat kerangka sederhana bagaimana hubungan antara budaya dan perilaku sosial, Ekologi - budaya - sosialisasi - kepribadian – perilaku.Sementara itu Berry, Segall, Dasen, & Poortinga (1999) mengembangkan sebuah kerangka untuk memahami bagaimana sebuah perilaku dan keadaan psikologis terbentuk dalam keadaan yang berbeda-beda antar budaya.Kondisi ekologi yang terdiri dari lingkungan fisik, kondisi geografis, iklim, serta flora dan fauna, bersama-sama dengan kondisi lingkungan sosial-politik dan adaptasi biologis dan adaptasi kultural merupakan dasar bagi terbentuknya perilaku dan karakter psikologis. Ketiga hal tersebut kemudian akan melahirkan pengaruh ekologi, genetika, transmisi budaya dan pembelajaran budaya, yang bersama-sama akan melahirkan suatu perilaku dan karakter psikologis tertentu.
Pada umumnya penelitian psikologi lintas budaya dilakukan lintas negara atau lintas etnis.Artinya sebuah negara atau sebuah etnis diperlakukan sebagai satu kelompok budaya.Dari sisi praktis, hal itu sangat berguna. Meskipun hal tersebut juga menimbulkan persoalan, apakah sebuah negara bisa diperlakukan sebagai satu kelompok budaya bila didalamnya ada ratusan etnik seperti halnya indonesia? Dalam posisi seperti itu, penggunaan bahasa nasional yakni bahasa indonesia menjadi dasar untuk menggolongkan seluruh orang indonesia ke dalam satu kelompok budaya. Pada akhirnya tidak ada kategori kaku yang bisa digunakan untuk melakukan pengelompokan budaya. Apakah batas-batas budaya itu ditandai dengan ras, etnis, bahasa, atau wilayah geografis, semuanya bisa tumpang tindih satu sama lain atau malah kurang relevan.
Sebuah definisi mengenai budaya dalam konteks psikologi lintas budaya diperlukan guna pemahaman yang sama mengenai apa yang dimaksud budaya dalam psikologi lintas budaya. Culture as the set of attitudes, values, belifs, and behaviors shared by a group of people, but different for each individual, communicated from one generation to the next (Matsumoto, 1996). Definisi Matsumoto dapat diterima karena definisi ini memenuhi semua perdebatan sebelumnya; budaya sebagai gagasan, baik yang muncul sebagai perilaku maupun ide seperti nilai dan keyakinan, sekaligus sebagai material, budaya sebagai produk (masif) maupun sesuatu (things) yang hidup (aktif dan menjadi panduan bagi individu anggota kelompok.Selain itu, definisi tersebut menggambarkan bahwa budaya adalah suatu konstruk sosial sekaligus konstruk individu.
Psikologi lintas budaya adalah cabang psikologi yang (terutama) menaruh perhatian pada pengujian berbagai kemungkinan batas-batas pengetahuan dengan mempelajari orang-orang dari berbagai budaya yang berbeda.Dalam arti sempit, penelitian lintas budaya secara sederhana hanya berarti dilibatkannya partisipasian dari latar belakang kultural yang berbeda dan pengujian terhadap kemungkinan-kemungkinan adanya perbedaan antara para partisipan tersebut.
Dalam arti luas, psikologi lintas budaya terkait dengan pemahaman atas apakah kebenaran dan prinsip-prinsip psikologis bersifat universal (berlaku bagi semua orang di semua budaya) ataukah khas budaya (culture spscific, berlaku bagi orang-orang tertentu di budaya-budaya tertentu) (Matsumoto, 2004).
Menurut Seggal, Dasen, dan Poortinga (1990) psikologi lintas budaya adalah kajian ilmiah mengenai perilaku manusia dan penyebarannya, sekaligus memperhitungkan cara perilaku itu dibentuk, dan dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan sosial dan budaya. Pengertian ini mengarahkan perhatian pada dua hal pokok, yaitu keragaman perilaku manusia di dunia, dan kaitan antara perilaku individu dengan konteks budaya, tempat perilaku terjadi. Terdapat beberapa definisi lain (menekankan beberapa kompleksitas), antara lain:
a.    Menurut Triandis, Malpass, dan Davidson (1972) psikologi lintas budaya mencakup kajian suatu pokok persoalan yang bersumber dari dua budaya atau lebih, dengan menggunakan metode pengukuran yang ekuivalen, untuk menentukan batas-batas yang dapat menjadi pijakan teori psikologi umum dan jenis modifikasi teori yang diperlukan agar menjadi universal.
b.    Menurut Brislin, Lonner, dan Thorndike, 1973) menyatakan bahwa psikologi lintas budaya ialah kajian empirik mengenai anggota berbagai kelompok budaya yang telah memiliki perbedaan pengalaman, yang dapat membawa ke arah perbedaan perilaku yang dapat diramalkan dan signifikan.
c.    Triandis (1980) mengungkapkan bahwa psikologi lintas budaya berkutat dengan kajian sistematik mengenai perilaku dan pengalaman sebagaimana pengalaman itu terjadi dalam budaya yang berbeda, yang dipengaruhi budaya atau mengakibatkan perubahan-perubahan dalam budaya yang bersangkutan.
Setiap definisi dari masing-masing ahli di atas, menitikberatkan ciri tertentu, seperti misalnya pertama, gagasan kunci yang ditonjolkan ialah cara mengenali hubungan sebab-akibat antara budaya dan perilaku. Kedua, berpusat pada peluang rampat (generalizabiliti) dari pengetahuan psikologi yang dianut.Ketiga lebih menitikberatkan pengenalan berbagai jenis pengalaman budaya.Kempat, mengedepankan persoalan perubahan budaya dan hubungannya dengan perilaku individual.Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa psikologi lintas budaya adalah psikologi yang memperhatikan faktor-faktor budaya, dalam teori, metode dan aplikasinya.


D.   Konsep dan Teori Psikologi
            Dalam psikologi terdapat beberapa konsep penting yang perlu dipahami. Beberapa konsep penting tersebut misalnya :
1.    Motivasi
            Motivasi adalah suatu keadaan dan ketegangan individu yang membangkitkan dan memelihara serta mengarahkan tingkah laku yang mendorong mmenuju pada suatu tujuan untuk mencapai suatu kebutuhan.
            Peranan motivasi dalam kehidupan manusia sangat penting.
a.       Pendekatan hedonisme , dimana orang akan berperilaku memaksimalkan kesenangan dan meminimalkan penderitaan karena pada hakikatnya individu adalah makhluk yang rasional.
b.      Pendekatan psikoanalitis, yang menempatan manusia tidak selalu rasional. Perilakunya ditentukan oleh pergulatan antara dorongan-dorongan bawah sadar yang kuat terutama id yang bekerja atas dasar nafsu dan biologis.
c.       Pendekatan insting, dalam pendekatan iniMcDougal (1908) berpendapat bahwa manusia sebagai makhluk nonrasional dan menunjukkan penerusan antara motivasi hewani dan manusiawi.
d.      Pendekatan eksperimental dengan mengedepankan dorongan. Konsep ini diperkenalkan oleh Woodworth (1918) untuk menggambarkan kekuatan tenaga internal yang membuat organisme melakukan suatu tindakan.
e.       Pendekatan teori rangsangan optimal yang diperkenalkan oleh Hebb (1955), dimana organism berusaha mencapai dan memelihara rangsangan yang berskala menengah pada dimensi rangsangan.
f.       Pendekatan aktualisasi diri yang diperkenalkan oleh Maslow (1954), dimana manusia selalu memiliki kebutuhan mendasar untuk berkembangan  secara psikologis menjadi individu yang sepenuhnya memiliki potensi-potensi positif untuk diaktualisasikan. (Apter, 1996:687).

2.    Konsep Diri
            Konsep diri merupakan penelitian tentang dirinya oleh orang lain yang menyangkut aspek fisik, persepsi, dan kesikapan. Konsep diri pun merupakan penilaian ttentang dirinya yang diibaratkan sama dengan/serupa dengan hasil penilaian orang lain.
            Dengan demikian, konsep diri merupakan sebuah produk kekuatan dan sosial yang merupakan agen penciptaan diri. Menurut Gecas (2000:955), ada tiga motivasi yang menonjol dalam literatur psikologi sosial, yaitu :
a.    Motivasi penguatan diri (self-enhancement) atau motivasi harga diri (self-esteem motive) mengacu pada motivasi seorang individu untuk mempertahankan atau menguatkan harga diri mereka yang dapat dilakukan kecenderungan orang dalam mendistorsi kenyataan agar tetap positif.
b.    Motivasi kemampuan diri (self-efficacy motive) mengacu pada pentingnya menghayati (experiencing) diri sebagai agen sebab akibat , yaitu motivasi untuk menerima dan menghayati diri sebagai seorang yang mampu, kompeten, dan tidak dapat lepas dari konsekuensi-konsekuensinya, baik positif  (member semangat ) maupun negative (alienasi dan fatum).
c.    Motivasi konsistensi diri ( self-consistency motive) lebih merupakan motivasi diri yang terlemah dari tiga motivasi diri walaupun jelas yang ketiga ini pun banyak pendukungnya. Konsep if yang member penekanan lebih besar pada motivasi kosistensi diri ( Gecas, 2000: 955).

3.    Konsep
            Konsep sikap menunjukkan penilaian diri sendiri terhadap sendiri terhadap apakah itu merupakan hal positif atau negative terhadap  bermacam-macam entitas, misalnya individu, kelompok, objek, tindakan, dan lembaga. Dengan demikian, sikap sebagai tendensi untuk bereaksi secara menyenangkan ataupun tidak menyenangkan terhadap sekelompok stimuli yang ditunjuk, misalnya suatu kelompok etnis atau komunitas, adat istiadat atau lembaga.
4.    Persepsi
                        Istilah persepsi dalam Kamus Lengkap Psikologi karya Chaplin ( 1999: 358), memiliki arti : Proses mengetahui atau mengenali objek dan kejadian objektif dengan bantuan indera
·         Kesadaran dari proses organis
·         Satu kelompok penginderaan dengan penambahan arti-arti yang berasal dari pengalaman di masa lalu
·         Variable yang menghalangi atau ikut campur tangan, berasal dari kemampuan organism untuk melakukan pembedaan diantara perangsang
·         Kesadaran intuitif mengenai kebenaran langsung atau keyakinan yang serta merta mengenai sesuatu.
            Dari pernyataan tersebut, presepsi mengacu pada mekanisme yang menjadi alat kita menyadari dan memproses informasi tentang stimuli ataupun dunia eksternal, baik itu menyangkut kualitas kognitif maupun efektif.
5.    Frustrasi
Konsep frustrasi setidaknya merujuk pada dua pengertian berikut
a.    Frustrasi merujuk pada terhalangnya tercapainya tujuan yang diharapkan pada saat tertentu dalam rangkaian perilaku. Definisi ini dianut oleh Dollard, Doob, amailler, Mowrer, dan Sears dalam karyanya Frustration and Aggression (1939: 7 ). Jadi, frustrasi dianggap sebagai pembatas eksternal yang menyebabkan seseorang tidak dapat memperoleh kesenangan yang diharapkannya.
b.    Frustrasi sebagai reaksi emosional internal yang disebabkan oleh suatu penghalang. Definisi ini dianut oleh Leonard Berkowitz dalam Aggression: Its Causes, Consequences and Control (1995: 42). 
            Dari dua definisi tersebut dapat dikemukakan bahwa frustrasi merupakan suatu reaksi emosional yang disebabkan oleh gagal atau terhalangnya pencapaian tujuan yang diharapkan.
            Beberapa penelitian psikologi sosial, kajian tentang frustrasibanyak dihubungkan dengan agresi dan kekerasan.Menurut Dollard dkk.(1939), frustrasi menjadi predisposisi terjadinya agresi karena pengalaman frustrasi mengaktifkan untuk bertindak agresif terhadap sumber frustrasi. Jika demikian, lalutimbul pertanyaan, frustrasi yang bagaimana yang menimbulkan agresi ?Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Berkowitz (1995:47) mengemukakan bahwa hanya terdapat beberapa jenis frustrasi yang menyebabkan kecenderungan agresif, terutama jika rintangan itu tidak adil, bersifat arbitrer, illegal atau sifatnya pribadi. Pendapat tersebut sejalan dengan Nicholas Pastore bahwa orang akan lebih marah jika rintangan dalam mencapai tujuan bersifat tidak adil, dibanding jika hal itusesuai aturan sosial.
Sebagai contoh, beberapa anggota kesebelasan dan supporter Italia dalam kejuaraan sepak bola dunia, merasa lebih marah ketika melihat wasit dari Honduras membiarkan lawannya dari Argentina bermain kotor tanpa diberi hukuman.
6.    Sugesti
            Sugesti merupakan bagian dari bentuk interaksi sosial yang menerima dengan mudah pengaruh orang lain tanpa diseleksi denganpemikiran yang kritis. Tanpa penggunaan kekuatan fisik atau paksaan.Keadaan mental seseorang mudah terkena sugesti orang lain, biasanya didahului oleh simpati, rasa kagum, dan menyenangi sehingga sering mengikuti kehendak atau pengaruh dari orang lain tersebut.Sugesti yang berasal dari diri sendiri atau otosugesti, contohnya rasa sakit-sakitan yang dirasakan seseorang, padahal menurut diagnosis dan pemeriksaan dokter tidak ada gangguan fisik atau penyakit, sesungguhnya rasa sakit itu hanya perasaan saja yang ketakutan dan selalu dibesar-besarkan rasa sakit tersebut.Sedangkan untuk contoh heterosugesti seperti yang dilakukan oleh para pemimpin yang karismatik dan bintang film terkenal yang memprovokasi untuk melakukan suatu tindakan.
            Seseorang dapat dengan mudah menerima sugesti yang terjadi karena berbagai hal, yaitu :
§  Bila yang bersangkutan mengalami hambatan dalam daya pikir kritisnya.
§  Karena seseorang mengalami disosiasi atau terpecah belah pimikirannya
§  Karena adanya dukungan mayoritas yang dapat mempengaruhi perubahan opini, prinsip dan pendapat maka individu ataupun kelompok minoritas dapat berubah pendapat sesuai dengan kehendak mayoritas.
7.    Prestasi
            Prestasi merupakan pencapaian atau hasil yang telah dicapai yang memerlukan suatu kecakapan/keahlian dalam tugas-tugas akademis maupun nonakademis.(Chaplin, 1999:310).
8.    Crowding (Kerumunan Massa)
            Crowding (kerumunan massa) merupakan suatu kumpulan orang-orang yang memiliki kepentingan yang sama walaupun mungkin tidak saling mengenal dengan emosi-emosi yang mudah dibangkitkan dan tidak kritis (Chaplin, 1999:118). Contohnya pada perilaku bringas “Boneknya Persebaya” yang suka merusak fasilitas public, seperti gerbong kereta api. Menurut Gustav Le Bon (1841-1932) seorang ahli psikologi, bias terjadi demikian karena bahwa suatu massa seakan-akan memiliki suatu jiwa tersendiri yang berlainan sifatnya dengan jiwa individu satu persatu. Dengan demikian seorang individu yang bergabung dalam massa tersebut sebagai anggota massa itu akan berpengalaman dan bertingkah laku secara berlainan dibandingkan dengan pengalaman dan tingkah lakunya sehari-hari selaku individu.
9.    Imitasi
            Imitasi merupakkan salah satu proses interaksi sosial yang banyak terjadi dalam kehidupan sehari-hari dengan meniru perbuatan orang lain secara disengaja. Pengaruhnya dapat positif dan negative.Secara positif, imitasi dapat menimbulkan pengaruh makin patuhnya terhadap norma-norma yang berlaku, terutama dalam system masyarakat patrimonial (patronase).Sedangkan secara negative, seperti dengan maraknya penyiaran film-film kekerasan di masyarakat dan sekolah pun kekerasan makin meningkat intensitasnya.
            Menurut seorang ahli psikologi sosial dan kriminolog Prancis, Gabriel Tarde (1842-1904) bahwa masyarakat tiada lain dari pengelompokan manusia, dimana individu satu sama lain mengimitasinya. Manusia baru dapat menjadi suatu masyarakat manakala ia mau mengimitasi kegiatan manusia lainnya.
10.  Kesadaran
            Konsep kesadaran memiliki makna anti yang merujuk pada suatu kondisi atau kontinum dimana kita mampu merasakan, berfikir, dan membuat persepsi. Kesadaran pun sangat dipengaruhi oleh sudut pandang individual, dan kita mungkin dapat mengatakan bahwa aspek-aspek subyektif dari kesadaran itu berada diluar penjelasan system ilmu pengetahuan yang didasarkan pada pemahaman bersama, bahkan berada diluar semua makna yang terkonstruksi kan secara sosial.
11.  Fantasi
            Konsep fantasi merujuk pada kapasitas manusia yang luar biasa dalam memberikan sosok pada sesuatun yang sesungguhnya tidak ada, kemudian melengkapinya dengan aneka pengandaian, baik itu secara spontan maupun sengaja.
            Biasanya fantasi didefinisikan sebagai kemampuan daya jiwa untuk untuk membentuk tanggapan-tanggapan baru dengan bantuan tanggapan yang telah ada, dan tidak perlu sesuai kenyataan.Seperti telah tertera padadefinisi tersebut, fantasi itu terjadi karena adanya kemampuan daya jiwa untuk membentuk tanggapan baru.Pembentukan tersebut dibantu oleh tanggapan yang telah ada.Tanggapan yang terbentuk tidak perlu sesuai dengan realita. Proses terjadinya tidak perlu didahului dengan latihan khusus .teapi begitu kita berkeinginan untuk melamun, maka seketika lamunan yang dikehendaki terjadi. Bahkan dengan tanpa sengaja kita tahu-tahu sudah pada alam lamuanan.Biasanya lamuan yang demikian terjadi apabila kita dalam keadaan kosong.
12.  Personalitas
            Personalitas dalam bahasa Latin, yaitu dari kata persona yang artinya topeng actor. Personalitas merupakan konsep samar yang mencakup seluruh karateristik psikologi yang membedakan seseorang dengan yang lain. Namun secara garis besar personalitas pada hakekatnya merupakan organisasi dinamis dalam dalam individu yang terdiri dari system-sistem psikofisik yang menentukan tingkah laku dan pikiran yang dimiliki secara karateristik.
13.  Pikiran
            Istilah mind atau pikiran berasal dari bahasa Teutonic kuno, yaitu gamundi yang artinya berpikir, mengingat, bermaksud atau intend dalam psikologi. dalam psikologi pikiran dapat dimodelkan lewat suatu hierarki prosesor parallel ganda yang memungkinkan ketepatan dan fleksibilitas dengan interaksi dan ketergantungan didalam dan diantara berbagai level.
14.  Insting atau Naluri
            Insting atau naluri merupakan impuls untuk melakukan tindakan tertentu tanpa kesadaran.
15.  Mimpi
            Mimpi merupakan suatu aktivitas sederetan tamsil simbolik, ide, gagasan, hasrat terpendam, kebutuhan, dan konflik yang saling bertalian dan berlangsung selamaseseorang tidak sadarkan diri.
TEORI PSIKOLOGI
1.    Teori Agresi Psikoanalisis Sigmund Freud
Teori Agresi Psikoanalisis dimotori oleh Sigmund Freud dalam karyanya Beyond the Pleasure Principle (1920).Inti dari teori tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut.
a.    Perilaku agresif manusia pada dasarnya didorong oleh dua kekuatan dasar yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari sifat manusia, yakni insting/naluri kehidupan (eros) dan insting /naluri kematian (thanatos).

b.    Eros, mendorong orang mencari kesenangan dan kenikmatan untuk memenuhi keinginan dan kenikmatan untuk memenuhi keinginan. Sedangkan thanatos diarahkan pada tindakan-tindakan destruktif diri serta perasaan berdosa /bersalah

c.    Karena sifat antagonistiknya,kedua insting /naluri itu merupakan sumber konflik intrafisik yang berkelanjutan, yang hanya dapat diatasi dengan mengalihkan kekuatan dengan orang yang bersangkutan kepada orang lain.

d.    Satu alternative yang mungkin dapat dilakukan melalui kataris (pelepasan) yang dapat dilakukan melalui humor maupun menyalurkan agresi terhadap benda-benda tiruan, serta berolahraga yang menunjukkan permainan keras.

2.    Teori Disonansi Kognitif Festinger
            Disonansi adalah hubungan dua elemen yang terjadi disertai suatu penyangkalan. Sebagai contoh , jika seseorang dipukul seharusnya ia kesakitan, tetapi jika orang dipukul tidak kesakitan maka terjadilah hubungan disonansi.
Adapun isi pokok teori disonansi kognitif tersebut sebagai berikut.
a.    Antara elemen-elemen kognitif mungkin terjadi hubungan yang tidak pas yang menimbulkan disonansi (kejanggalan) kognitif.
b.    Disonansi kognitif menimbulkan desakan untuk mengurangi disonansi tersebut dan menghindari peningkatannya.
c.    Hasil dari desakan terwujud dalam perubahan-perubahan yang pada kognisi.
d.    Perubahan tingkah laku dan menghadapkan diri pada beberapa informasi tentang pendapat baru yang sudah diseleksi terlebih dahulu.
3.    Teori Kepribadian Erich Fromm
Secara singkat, teori kepribadian yang digagas Fromm sebagai berikut.
a.    Kebebasan manusia yang semakin luas, menempatkan manusia merasa semakin kesepian, dengan kata lain kebebasan menjadikan keadaan yang negative dimana manusia-manusiamelarikan diri.
b.    Manusia selalu berusaha memecahkan kontradiksi-kontradiksi dasar yang apa adanya.
c.    Aspek individu, yakni aspek binatang dan aspek manusia merupakan kondisi-kondisi dasar eksistensi manusia, yang berasumsi bahwa : “ Pemahaman tentang psikhe manusia harus berdasarkan analisis tentang kebutuhan manusia yang berasal dari kondisi-kondisi eksistensinya. Kebutuhan tersebut mencakup :
1)    Kebutuhan akan keterhubungan
2)    Kebutuhan akan transendensi
3)    Kebutuhan akan keberakaran
4)    Kebutuhan akan identitas
5)    Kebutuhan akan kerangka orientasi.
d.    Kepribadian orang akan berkembang menurut kesempatan yang diberikan kepadanya oleh masyarakat tertentu.
e.    Sebagai manusia tidak lepas dari pasangan tipe karakter nekrofilus dan biofilus. Nekrofilus adalah orang yang tertarik pada kematian, sedangkan biofilus adalah orang yang mencintai kehidupan.
f.     Sekarang ini lima tipe masyarakat sudah demikian menggejala, berbeda dengan masa-masa sebelumnya, seperti reseptif, eksploratif, penimbuan, pemasaran, dan produktif.
g.    Ia yakin dengan proporsi-proporsi sebagai berikut: manusia memiliki kodrat esensial bawaan; masyarakat diciptakanoleh manusia untuk memenuhi kodrat esensial ini; tidak satu pun bentuk masyarakat yang  pernah diciptakan berhasil memenuhi kebutuhan dasar eksistensi manusia; adalah mungkin menciptakan masyarakat itu.
h.    Masyarakat yang didambakan adalah sosialisme kemuntarian humanistic.

4.    Teori Deprivasi Relatif Gurr
            Adapun ringkasan teori tersebut sebagai berikut.
a.    Dengan mendefinisikan deprivasi relative sebagai hasil dari proses perubahan harapan dan kemampuan untuk memenuhi harapan itu.
b.    Ketidakpuasan mennciptakan potensi untuk kekerasanm politik.
5.    Toeri Kecerdasan Majemuk Howard Gardner
            Menurutt Gardner, kemungkinan pemikiran dan kepandaian manusia sebenarnya dapat dijelaskan. Gardner meneliti berbagia literature sains dan ilmu sosial untuk memperoleh kecerdasan potensial.Kecerdasan bukan hanya didukung oleh tes psikometri, melainkan juga dibuktikan dengan hasil dari tugas-tugas dalam psikologi eksperimental.Kecerdasan menunjukkan sekumpulan kegiatan pengolahan, seperti pencarian titik nada dalam music atau sintaksis dalam bahasa, yang dirancang oleh informasi yang relevan dengan kecerdasan itu.
Gardner mengidentifikasi delapan kecerdasan yang relative otonom, yakni
a.    Kecerdasan linguistic
b.    Kecerdasan logika
c.    Kecerdasan spasial
d.    Kecerdasan kinestetik jasmaniah
e.    Kecerdasan interpersonal
f.     Kecerdasan intrapersonal
g.    Kecerdasan naturalis (membuat kategorisasi dan menentukan cirri-ciri lingkungan).

E.   Generalisasi dalam Psikologi
Motivasi
Motivasi seseorang untuk melakukan suatu tindakan dapat berlangsung baik disadari maupun tidak disadari. Sebab sebagai manusia sering terjadi bahwa kita tidak selalu sepenuhnya menyadari akan sebab dan akibat yang ditimbulkan dari tindakan itu.
Konsep Diri
Konsep diri yang baik bagi seseorang adalah konsep diri yang positif.Artinya penilaian tentang dirinya secara internal maupun eksternal adalah seimbang dan valid.
Sikap
Sebuah sikap seringkali diartikan sebagai tendensi (kecenderungan) untuk bereaksi secara menyenangkan ataupun tidak menyenangkan terhadap sekelompok stimuli yang ditunjuk, misalnya suatu kelompok etnis,kelompok bangsa, adat istiadat, atau lembaga (Anastasi dan Urbina, 1997: 42)
Persepsi
Persepsi seseorang tentang suatu benda tertentu, memiliki nilai yang lebih objektif dibanding jika kita bertanya tentang sikap seseorang terhadap partaipolitik tertentu. Persepsi seseorang dapat keliru manakala individu mengalami ilusi, dimana ia mengalami gangguan pengamatan yang tidak sesuai dengan pengindraan sehingga ketika mekanisme normal diaktifkan tidak mampu menangkap stimuli sebenarnya secara akurat.
Frustasi
Frustasi yang disebabkan oleh ketidakadilan (bersifat abitrer), lebih erat hubungannya dengan terjadinya agresi, dibanding dengan frustasi nonabitrer.Sebab frustasi nonabitrer justru reaksinya dapat menarik diri dari pergaulan dan menjadi depresi (Krahe, 2005: 56; Berkowitz, 1995: 47).
Sugesti
Berlangsungnya proses sugesti dapat terjadi karena pihak yang menerima dilanda kekalutan emosi dan sedang terhambat daya pikirnya seseorang secara rasional. Akan tetapi juga dapat terjadi oleh sebab yang memberikan pandangan tersebut adalah orang yang dianggap berwibawa dan otoriter ataupun karena faktor suara mayoritas (Soekanto, 1986 :52-53).
Prestasi
Masyarakat yang memiliki tingkat kebutuhan berprestasi, umumnya akan menghasilkan jiwa wiraswastawan yang lebih bersemangat dan selanjutnya akan menghasilkan perkembangan ekonomi yang lebih cepat, dibandingkan dengan kelompok yang memiliki tingkat kebutuhan prestasi yang lebih rendah.
Crowding (Kerumunan Massa)
Crowding atau Kerumunan Massa sering merefleksikan perbuatan-perbuatan primitif yang destruktif, walaupun pada hakikatnya tidak selalu mempresentasikan perbuatan negatif seperti itu. Menurut pengamat psikologi sosial, seperti Gustav Le Bon , hal itu disebabkan karena suatu massa yang umumnya tidak saling mengenal tersebut memiliki suatu jiwa tersendiri yang berbeda dengan sifat-sifat individu dan massa yang lebih bersifat impulsif, mudah tersinggung, suggestible, dan irasional.
Imitasi
Menurut Gabriel Tarde, masyarakat tidak lain adalah pengelompokan manusia, dimana individu yang satu mengimitasi yang lain, dan sebaliknya. Bahkan, masyarakat baru menjadi masyarakat sebenarnya apabila manusia mulai mengimitasi kegiatan-kegiatan manusia lainnya. Menurut Tarde, La sosiete c’es l’imitasion (Gerungan, 2000: 32).
Kesadaran
Bukti-bukti medis menunjukkan bahwa kesadaran seseorang sangat bergantung dari fungsi otak tertentu.Serangkaian studi terhadap pasien yang mengalami kerusakan otak, menunjukkan para pasien mengalami gangguan kesadaran dari tingkat ringan sampai berat.Jika korteks bagian kanan rusak, pasien cenderung mengalami sindrom yang dikenal dengan pengabaian unilateral.Dalam kasus seperti ini, pasien dapat kehilangan kesadaran diri yang merusak daya imajinasi maupun pemahaman dunia nyata.
Fantasi
Pemanfaataan fantasi dalam dunia seni sudah lama merupakn sumber lahirnya puisi, drama, dan lukisan.Akan tetapi, baru sejak abad ke-20 fenomena tersebut menjadi kajian ilmiah formal dalam psikologi. (Singer, 2000: 343)
Personalitas/Kepribadian
Kepribadian mencakup usaha-usaha menyesuaikan diri yang beraneka ragam, namun khas yang dilakukan oleh individu.Karena itu kepribadian sering diidentikkan dengan aspek-aspek unik atau khas dari tingkah laku. Dalam hal ini, kepribadian merupakan istilah untuk menunjuk pada hal-hal khusus tentang individu dan yang membedakannya dari semua orang (Hall dan Lindzey, 1993: 27)
Pikiran
Manusia sebagai makhluk rasional yang beragama dan berbudaya, semestinya pikirannya mampu mengendalikan perilakunya sehari-hari.Bukan sebaliknya, perilaku mengendalikan pikiran. (Valentine, 2000: 668)
Insting/Naluri
Bagi Charles Darwin maupun Sigmund Freud, agresi dan kekerasan jika ditelusuri asal-muasalnya merupakan bagian integral dari seleksi alam yang kompetitif ataupun naluri sebagai pertahanan naluri kehidupan(eros) maupun naluri kematian (thanatos) sebagai makhluk manusia. Namun berbeda dengan mazhab behavioristik, seperti John B. Watson bahkan Albert Bandura bahwa agresi dan kekerasan adalah hasil pembiasaan dan pembelajaran yang bersifat eksternal dari pengaruh-pengaruh lingkungan yang deterministik.
Mimpi
Sampai sekarang riset tentang mimpi masih sangat terbatas sehingga aktivitas mimpi masih merupakan bagian perilaku manusia yang sangat sedikit dipahami.Terutama sejak psikologi melepaskan diri dari metode introspeksi dengan penggunaan metode-metode objektif-positivistik.Studi tentang mimpi menjadi keluar dari kepustakaan dunia ilmu-ilmu sosial.Padahal jika ditelaah lebih jauh, mimpi memiliki multifungsi untuk kepentingan manusia sekarang dan mendatang (Cartwright, 2000: 240).
Hubungan Psikologi dengan Ilmu Sosial
Ilmu-ilmu sosial adalah yang pertama berhubungan dan yang terdekat dengan psikologi, karena hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan dalam ilmu-ilmu sosial dikembangkan berdasarkan perilaku manusia atau kelompok manusia ( masyarakat, komunitas, kelompok etnik,dll ).  Ilmu-ilmu yang kurang mempergunakan psikologi dengan sendirinya adalah ilmu-ilmu yang tidak langsung berhubungan dengan manusia sebagai objeknya, seperti ilmu pengetahuan murni ( matematika ) dan ilmu pengetahuan alam ( ilmu kimia, ilmu alam, ilmu hayat ).
Di dalam kajian sejarah terdapat jenis psycohistory.Kajian sejarah psikologis ini mempelajari psikologi tokoh-tokoh dalam sejarah.Dalam melakukan kajian sejarah tersebut jelas sejarawan memerlukan ilmu psikologi untuk memahami kejiwaan para tokoh.Bagi psikologi penelitian sejarah tersebut sangat penting sebagai alat memahami pola atau kecenderungan psikis para tokoh pada masa sekarang.
Ilmu sosiologi mempelajari masalah-masalah sosial seperti kemiskinan dan perilaku menyimpang.Dalam mempelajari masalah kemiskinan, sosiolog sering melakukan pendekatan psikologis untuk memahami psikis subjek penelitian.Demikian halnya ketika meneliti penyimpangan sosial yang terjadi, para sosiolog dapat meminjam konsep dan teori dalam psikologi untuk mengungkap masalah tersebut.
Kedua contoh di atas tidak berbeda dengan yang terjadi pada ilmu-ilmu sosial lainnya.Hal ini menunjukkan bahwa psikologi telah memperoleh tempat khusus dalam setiap disiplin ilmu sosial.Bahwa ilmu psikologi dan ilmu sosial lainnya saling membutuhkan dan saling membantu.


















BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
·         Psikologi merupakan studi ilmiah mengenai proses perilaku dan proses-proses mental.
·         Psikologi dibagi atas lima pendekatan, yaitu pendekatan neurolobiologis, pendekatan perilaku, pendekatan kognitif, pendekatan psikoanalitik, dan pendekatan fenomenologis. Dan metode-metode dalam psikologi antara lain metodologi eksperimental, observasi, sejarah kehidupan (metode biografi), wawancara, angket, pemeriksaan psikologi/psikotes, metode analisis karya, dan metode statistik.
·         Pembagian kurun waktu sejarah psikologi adalah masa Yunani, masa abad pertengahan, masa renaissance, dan masa revolusi ilmiah.
·         Konsep dalam psikologi meliputi motivasi, konsep diri, konsep, persepsi, frustasi, sugesti, crowding, imitasi, kesadaran, fantasi, personalitas, pikiran, insting dan mimpi. Sedangkan teori dalam psikologi antara lain Teori Agresi Psikoanalisis Sigmund Freud , Teori Disonansi Kognitif Festinger , Teori Kepribadian Erich Fromm, Teori Deprivasi Relatif Gurr, Toeri Kecerdasan Majemuk Howard Gardner.
·         Psikologi telah memperoleh tempat khusus dalam setiap disiplin ilmu sosial. Bahwa ilmu psikologi dan ilmu sosial lainnya saling membutuhkan dan saling membantu.





DAFTAR PUSTAKA
            Supardan,Dadan.2007.Pengantar Ilmu Sosial.Jakarta:Bumi Aksara
            Supardi,2011.Dasar-Dasar Ilmu Sosial.Yogyakarta:Ombak
            Dakir.1993.Dasar-Dasar Psikologi.Yogyakarta:Pustaka Pelajar
            Mahmud,Dimyati.1990.Psikologi Suatu Pengantar Edisi 1.Yogyakarta:BPFE
            Rumini,Sri,dkk.1998.Psikologi Umum.Yogyakarta:FIP.IKIP

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Copyright © Publikasi Tugas Kuliah Urang-kurai